Aku tengah berfikir,
bagaimana seandainya kita tak pernah lagi bisa menjaga kemandirian kita. Bagaimana kita harus selalu mengikuti apapun kata hati. Bagaimana kita menutup pelan-pelan katup otak yg di sana tersimpan sesuatu bernama logika?
Kategori : Personal - 18 hari yang lalu
8 Jawaban
Jawaban Terbaik Pilihan Penanya
TS Master
0
Seandainya di dunia ini, logika dipinggirkan sama sekali dan perasaan emosional yang diutamakan, maka dunia akan berjalan kacau, semrawut, dan tidak terarah.
Hukum, peraturan, tata tertib, prosedur, sistem, menjadi tidak berlaku lagi karena skrg yang mengendalikan kehidupan adalah perasaan kita. Jadi seseorang boleh saja tiba-tiba membunuh orang lain bila terpancing emosinya dan kita harus bisa memaklumi perbuatan tersebut yg tidak dikenai sanksi apa pun karena kita bisa berempati merasakan bagaimana terbakarnya emosi seseorang bila terus diejek/diprovokasi.
Bila suatu saat pasangan kita ditaksir orang lain dan pasangan kita mengiyakan ajakan tersebut karena dia juga menaruh hati, maka kita juga harus mengikhlaskan hal tersebut.
Seseorang boleh saja menerobos lampu merah, palang rel kereta api, atau parkir sembarangan bila kata hatinya menyuruh demikian dan lagi2 kita tdk bisa melarangnya. Dokter mendiagnosis pasien tdk lagi melalui pemeriksaan rinci, tapi hanya main perasaan saja.
Kehidupan lama2 menjadi tdk efektif. Kita terlalu banyak berempati, menangis, terharu, dan menguras segala emosi kita tanpa melakukan kegiatan rasional yg bermanfaat. Dalam melakukan sesuatu, kita juga hanya mengandalkan perasaan aja yang sifatnya untung-untungan, bukan lagi melalui penghitungan matematis yang bisa dipertanggungjawabkan.
Jawaban Lainnya
TS Master
17 hari yang lalu
Wah, ya bisa berabe bro...
Menurut saya, yg akan terjadi ketika logika seluruh manusia tertutup adalah :
Terjadi pembantaian besar2an, yg lemah akan dihancurkan dan mati oleh yg kuat (semua orang ingin menang sendiri).
Akan tercipta semacam "wilayah kekuasaan".
Akan tercipta perbudakan wanita utk keperluan seks (wanita kan fisiknya lebih lemah, pada akhirnya mereka pasti akan dijadikan budak seks).
Kepemimpinan didasarkan pada kekuatan dan rasa takut. Soalnya rasa takutlah yg membuat orang lain kata hatinya berkata "udah mending diturutin daripada celaka".
Itu sisi negatifnya.
memang sih pasti akan ada sebagian orang yg menjadi sangat mulia karena kata hatinya penuh dengan empati dan kasih sayang... namun yg seperti ini jumlahnya sedikit... dan bisa langsung terlibas/dihancurkan oleh yg jumlahnya banyak (yg empati rendah dan barbar).
Dan kediktatoran akan silih runtuh sampai akhirnya tercipta "demokrasi" secara insting... dan perlahan tapi pasti, logika kita pasti akan mula terbuka lagi demi menjamin keberlangsungan spesies kita (bagian dari insting alamiah evolusi).
TS Master
TS Master
18 hari yang lalu
Ga bisa jaga kemandirian karena krisis percaya diri, menuruti kata hati identik dgn prinsip dan keyakinan, dan kenapa kita harus menghentikan logika dan Hidup irasional?.. Kan masih bisa didapat titik singkronisasi antara prinsip/keyakinan dgn logika.
Sumber :
Gw pernah ngalami.
TS Active
TS Star
18 hari yang lalu
Mungkin didunia ini tidak ada kedamaian karna kita selalu di selimuti napsu yang serakah. Bersyukur kita masih bisa berpikir dengan logika
TS Active
18 hari yang lalu
itulah kebesaran yang MAHA KUASA, apapun kepercayaan kita ini pasti sama, Dia menciptakan itu semua ada fungsi dan manfaatnya, kita gak pernah bisa untuk menghindari apa yang kita sebut akal sehat (logika) ppun itu harus di balancing dengan kata hati (feeling), karena kita hidup tidak sendiri kita human society.
Sumber :
buku + personal effect
TS Master
18 hari yang lalu
ke-1 tdk bs mnjaga kmandirian-hancur. ke-2 mengikuti kata hati-berantakan. ke-3 menutup logika-mati suri.

